Sejarah Sumo/ History of Sumo FOR GENERAL GENERAL
Sejarah Sumo/ History of Sumo FOR GENERAL GENERAL
Sejarah tentang Sumo
Sumbo besar dan
bertarung. Saat mendengar kata sumo, mungkin dua kata itulah yang ada di
pikiran kita. semua orang juga pasti tahu bahwa sumo berasal dari Jepang. Tapi,
apa sumo sebenarnya dan bagaimana perjuangan sumo untuk mempertahankan
ekstensinya di tengah perkembangan jaman? Menurut catatan sejarah, sumo adalah
suatu tradisi ritual dalam agama Shinto yang lahir dua ribu tahun lalu. Sumo
adalah sebuah adu kekuatan dua “rikishi” (pesumo) dalam sebuah pertandingan
(dohyo). Pada awal kemunculannya, sumo dilakukan sebagai bentuk hiburan bagi
para dewa selama festival Matsuri. Dunia sumo Jepang mengalami perubahan pada
abad XVII. Sumo yang awalnya hanya dianggap sebagai sebuah tradisi mulai dijadikan
sebagai kompetisi olahraga. Sejak saat itu, sumo mulai memiliki aturan yang
lebih kompleks. Sumo juga makin pupuler sejak diselenggarakan turnamen sumo Six
Grand Tournament pada 1958. Meski sudah diselenggarakan dengan lebih
professional, sumo tetap berusaha mempertahankan tradisi Shinto yang secara
simbolis terlihat di pertandingan sumo. Contohnya, arena pertandingan sumo
(dohyo) yang berbentuk cincin menyimbolkan kemurnian Shinto. Ada juga kanopi
yang menggantung di atas dohyo (tsuriyane), yang menyimbolkan kuil untuk
peribadatan agama Shinto. Sejak sumo diakui sebagai olahraga dan dikompetisikan
secara resmi dalam turnamen, profesi pesumo (rikishi) pun semakin pupuler.
Tapi, menjadi pesumo juga tidak mudah karena perlu pelatihan khusus. Di tempat
pelatihan (heya), pesumo harus mengikuti semua prosedur latihan dan berbagai
aturan. Termasuk aturan makan. Tidak hanya itu, pesumo juga memiliki tingkatan
yang berpengaruh pada jumlah gaji dan karir mereka. Ada tingkatan paling
rendah, ada juga tingkatan paling tinggi. Dunia sumo pun tidak lepas dari
cobaan berat. Seperti olahraga tradisional lain, seiring dengan perkembangan
zaman, popularitas sumo juga sempat menurun. Sejak 2003, jumlah pesumo sekamin
berkurang. Pada 2007 saja jumlah pesumo
720 orang. Itu pun dominasi pesumo non Jepang cukup signifikan. Penurunan
jumlah pesumo juga tidak lepas dari turunnya antusiasme anak muda Jepang
terhadap olahraga itu. Sumo dianggap terlalu kolot dan tidak gaul, misalnya
menggunakan celana pertandingan sumo (mawashi) yang terlalu terbuka. Hal itu
juga diperkeruh oleh tindakan asosiasi sumo amatir yang mengeluarkan celana
sumo modifikasi bagi pesumo. Hal tersebut tentu mendapat tanggapan keras dari
badan olahraga sumo Nihon Sumo Kyokai yang berusaha keras mempertahankan
tradisi dalam sumo. “Mawashi adalah hal yang penting dan penuh makna tradisi,”
tegas perwakilan Niho Sumo Kyokai. Pada 2011, dunia sumo juga sempat dilanda
kabar miring tentang skandal pengaturan kemenangan dalam sebuah pertandingan
sumo yang dilakukan demi uang. Tentu saja hal itu sempat membuat kredibilitas
sumo di mata public sedikit negative. Meski sempat diliputi berbagai masalah,
kesistensi sumo tetap dijaga hingga kini. Nihon Sumo Kyokai juga tetap berusaha
menjaga agar sumo tetap menjadi olahraga yang sarat tradisi di tengah tuntutan
zaman yang makin modern. Turnamen kuno terus diadakan setiap tahun. Semua usaha
itu tentu saja dilakukan agar sumo tetap bertahan di tengah perkemnangan zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar